Kamis, 18 April 2013

Tugas 1_Teori Organisasi Umum 2


Perilaku Konsumen, Surplus Konsumen dan Elastisitas Harga

I.    Perilaku Konsumen
Definisi Perilaku Konsume
Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarianpemilihanpembelian,penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan.

Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan denganmudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan denganpertimbangan yang matang. 

Pendekatan Perilaku Konsumen
A. Pendekatan Kardinal atau Cardinal Approach
Menurut pendekatan kardinal kepuasan seorang konsumen diukur dengan satuan kepuasan (misalnya:uang). Setiap tambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan menambah kepuasan yang diperoleh konsumen tersebut dalam jumlah tertentu. Semakin besar jumlah barang yang dapat dikonsumsi maka semakin tinggi tingkat kepuasannya. Konsumen yang rasional akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya pada tingkat pendapatan yang dimilikinya. Besarnya nilai kepuasan akan sangat bergantung pada individu (konsumen) yang bersangkutan. Konsumen dapat mencapai kondisi equilibrium atau mencapai kepuasan yang maksimum apabila dalam membelanjakan pendapatannya mencapai kepuasan yang sama pada berbagai barang. Tingkat kepuasan konsumen terdiri dari dua konsep yaitu kepuasan total (total utility) dan kepuasan tambahan (marginal utility). Kepuasan total adalah kepuasan menyeluruh yang diterima oleh individu dari mengkonsumsi sejumlah barang atau jasa. Sedangkan kepuasan tambahan adalah perubahan total per unit dengan adanya perubahan jumlah barang atau jasa yang dikonsumsi Asumsi dari pendekatan ini adalah sebagai berikut :
Ø   Konsumen rasional,
artinya konsumen bertujuan memaksimalkan kepuasannya dengan batasan pendapatannya.
Ø   Berlaku hukum Diminishing marginal utility,
artinya yaitu besarnya kepuasan marginal akan selalu menurun dengan bertambahnya jumlah barang yang dikonsumsi secara terus menerus.
Ø   Pendapatan konsumen tetap,
artinya untuk memenuhi kepuasan kebutuhan konsumen dituntut untuk mempunyai pekerjaan yang tetap supaya pendapatan mereka tetap jika salah satu barang di dalam pendekatan kardinal harganya melonjak.
Ø   Uang mempunyai nilai subyektif yang tetap,
artinya uang merupakan ukuran dari tingkat kepuasan di dalam pendekatan kardinal semakin banyak konsumen mempunyai uang maka semakin banyak mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka.
Ø  Total utility
adalah additive dan independent. Additive artinya daya guna dari sekumpulan barang adalah fungsi dari kuantitas masing-masing barang yang dikonsumsi. Sedangkan independent berarti bahwa daya guna X1 tidak dipengaruhi oleh tindakan mengkonsumsi barang X2, X3, X4 …. Xn dan sebaliknya.

B. Pendekatan Ordinal atau Ordinal Approach
Pendekatan Ordinal daya guna suatu barang tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok barang.
Pendekatan yang dipakai dalam teori ordinal adalah indefference curve, yaitu kurva yang menunjukkan kombinasi 2 (dua) macam barang konsumsi yang memberikan tingkat kepuasan sama. Asumsi dari pendekatan ini adalah :
1.    Konsumen rasional artinya konsumen bertujuan memaksimalkan kepuasannya dengan batasan pendapatannya.
2.    Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang yang disusun berdasarkan urutan besar kecilnya daya guna yang artinya konsumen melihat barang dari segi kegunaannya.
3.    Konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu artinya konsumen harus mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhannya.
4.    Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan maksimum artinya konsumen harus berusaha semaksimal mungkin walaupun hanya mempunyai uang terbatas untuk memenuhi kebtuhan mereka.
5.    Konsumen konsisten, artinya bila barang A lebih dipilih daripada B karena A lebih disukai daripada B, tidak berlaku sebaliknya
6.    Berlaku hukum transitif, artinya bila A lebih disukai daripada B dan B lebih disukai daripada C, maka A lebih disukai daripada C

Persaman dan Perbedaan
·         Persamaan Kardinal dan Ordinal
Yaitu sama-sama menjelaskan tindakan konsumen dalam mengkonsumsi barang-barang yang harganya tertentu dengan pendapatan konsumen yang tertentu pula agar konsumen mencapai tujuannya(maximum utility)
·         Perbedaan kardinal dan Odinal
Pandangan antara besarnya utility menganggap bahwa besarnya utiliti dapat dinyatakan dalam angka atau bilangan.. Sedangkan analisis ordinal besarnya utility dapat dinyatakan.dalam bilangan atau angka. Analisis kardinal mengunakan alat analisis yang dinamakan marginal utiliy (pendekatan marginal). Sedangkan analisis ordinal menggunakan analisis indifferent curve atau kurva kepuasan sama .

II.   SURPLUS KONSUMEN
Definisi Perilaku Konsume
Teori nilai guna dapat pula menerangkan tentang wujudnya kelebihan kepuasan yang dinikmati oleh para konsumen. Kelebihan kepuasan ini, dalam analisis ekonomi, dikenal sebagai surplus konsumen.
Surplus konsumen pada hakikatnya berarti perbedaan diantara kepuasan yang diperoleh seseorang didalam mengkonsumsikan sejumlah barang dengan pembayaran yang harus dibuat untuk memperoleh barang tersebut. Kepuasan yang diperoleh selalu lebih besar daripada pembayaran yang dibuat.

Contoh : Seorang konsumen pergi ke pasar membeli mangga dan bertekad membeli satu buah yang cukup besar apabila harganya Rp.1500. Sesampainya dipasar ia mendapati bahwa mangga yang diinginkannya hanya berharga Rp.1000. jadi, ia dapat memperoleh mangga yang diinginkannya dengan harga Rp.500 lebih murah daripada harga yang bersedia dibayarkannya. Nilai Rp.500 ini dinamakan Surplus Konsumen.
 

Surplus Konsumen (Consumer Surplus)
·         Kesediaan konsumen membayar dikurangi jumlah yang sebenarnya dibayarkan konsumen.
·         Selisih antara kesediaan konsumen membayar dengan nilai yang sesungguhnya ia bayarkan.
·         Selisih antara kesediaan membayar dengan harga pasar.

Studi Ilmu Ekonomi Kesejahteraan dilihat dari keuntungan yang diterima pembeli / konsumen dari keikutsertaannya di sebuah pasar.
a.       Kesediaan Membayar (willingness to pay) à Jumlah maksimum yang mau dibayar oleh konsumen untuk memperoleh suatu barang
b.       Penggunaan Kurva Permintaan untuk Mengukur Surplus Konsumen
§  Hubungan antara ketinggian kurva permintaan dengan kesediaan membayar para calon pembeli
§  Pada setiap kuantitas permintaan, harga yang ditunjukkan oleh kurva permintaan sama dengan kesediaan membayar "pembeli marginal" (marginal buyer), yakni pembeli yang akan langsung meninggalkan pasar begitu harga naik lagi
c.        Bagaimana Harga yang Lebih Rendah Meningkatkan Surplus Konsumen
§  Pembeli senantiasa menginginkan harga yang lebih rendah untuk setiap barang atau jasa yang akan mereka beli, maka penurunan harga akan memperbesar kesejahteraan pembeli
§  Tambahan surplus konsumen itu ada dua macam
i.      Para pembeli lama yang dulu memberi produk yang bersangkutan (Q1) dengan harga awal yang lebih tinggi (P1) à Kenaikan surplus konsumen para pembeli lama ini identik dengan penurunan harga yang mereka bayarkan
ii.     Memperoleh kenaikan kesejahteraan karena kini mereka bisa membelinya dengan harga lebih murah (P2) à Surplus komsumen yang dinikmati oleh para pembeli baru tertarik ikut berpartisipasi di pasar setelah harga turun. Karena adanya pernbeli baru ini, maka kuantitas permintaannya bertambah dari Q1 menjadi Q2.
d.       Apa yang Diukur Surplus Konsumen
§  Tujuannya adalah untuk membuat penilaianan normatif tentang diinginkan atau tidaknya hasil yang dibuahkan oleh mekanisme pasar.
§  Merupakan ukuran yang baik bagi kesejahteraan ekonomis konsumen
§  Menghormati preferensi (pilihan, atau kecenderangan perilaku) pembeli.
§  Merupakan cerminan kesejahteraan ekonomis para konsumen.
III.  ELASTISITAS HARGA
Definisi Elastisitas Harga
Elastisitas harga adalah tingkat kepekaan relatif dari jumlah yang diminta konsumen, akibat adanay perubahan tingkat barang. Dengan kata lain elastisitas harga adalah perubahan proporsional dari sejumlah barang yang diminta dibagi dengan perubahan proporsional dari harga.

Konsep Elastisitas
Elastisitas adalah perbandingan perubahan proporsional dari sebuah variabel dengan perubahan variable lainnya. Definisi lain, elastisitas mengukur seberapa besar kepekaan atau reaksi konsumen terhadap perubahan harga

Konsep elastisitas ini digunakan untuk meramalkan apa yang akan barang/jasa dinaikkan. Pengetahuan mengenai seberapa dampak perubahan harga terhadap permintaan sangatlah penting. Bagi produsen, pengetahuan ini digunakan sebagai pedoman seberapa besar ia harus mengubah harga produknya. Hal ini sangat berkaitan dengan seberapa besar penerimaan penjualan yang akan ia peroleh. Sebagai contoh, anggaplah biaya produksi sebuah barang meningkat sehingga seorang produsen terpaksa menaikkan harga jual produknya. Menurut hukum permintaan, tindakan menaikkan harga ini jelas akan menurunkan permintaan. Jika permintaan hanya menurun dalam jumlah yang kecil, kenaikan harga akan menutupi biaya produksi sehingga produsen masih mendapatkan keuntungan. Namun, jika peningkatan harga ini ternyata menurunkan permintaan demikian besar, maka bukan keuntungan yang ia peroleh. Hasil penjualannya mungkin saja tidak dapat menutupi biaya produksinya, sehingga ia menderita kerugian. Jelas di sini bahwa produsen harus mempertimbangkan tingkat elastisitas barang produksinya sebelum membuat suatu keputusan. Ia harus memperkirakan seberapa besar kepekaan konsumen atau seberapa besar konsumen akan bereaksi jika ia mengubah harga sebesar sepuluh persen, dua puluh persen, dan seterusnya. 

Besar kecilnya kepekaan tersebut dapat dilihat dari besarnya angka koefisien elastisitas atau indeks elastisitas.
4 konsep elastisitas yang umumnya dipakai dipakai dalam teori ekonomi mikro
1.       Elastisitas Harga Permintaan (the price elasticity of demand)
2.       Elastisitas Silang (The Cross Price Elasticity of demand)
3.       Elastisitas silang (Ec)
4.       Elastisitas Pendapatan (The Income Elasticity of Demand)

Elastisitas Harga Permintaan (the price elasticity of demand) 

Elastisitas harga permintaan adalah derajat kepekaan/ respon jumlah permintaan akibat perubahan harga barang tersebut atau dengan kata lain merupakan perbadingan daripada persentasi perubahan jumlah barang yang diminta dengan prosentase perubahan pada harga di pasar, sesuai dengan hukum permintaan, dimana jika harga naik, maka kuantitas barang turun Dan sebaliknya. 

Sedangkan tanda elastisitas selalu negatif, karena sifat hubungan yang berlawanan tadi, maka disepakati bahwa elastisitas harga ini benar indeksnya/koefisiennya dapat kurang dair, dama dengan lebih besar dari satu Dan merupakan angka mutlak (absolute), sehingga permintaannya dapat dikatakan :
1.       Tidak elastisitas (in elastic)
2.       Unitari (unity) dan
3.       Elastis (elastic) 

Dengan bentuk rumus umum sebagai berikut : 
Δ Q ΔP Δ Q P
Eh : atau Eh = X
Q P ΔP Q
Dimana :
Eh adalah elastisitas harga permintaan
Q adalah Jumlah barang yang diminta
P adalah harga barang tersebut
Δ adalah delta atau tanda perubahan.

Disamping tiga bentuk elastisitasharga permintaan diatas, ada dua lagi elastisitas harga permintaan, yaitu : 
1. Permintaan yang elastis sempurna (perfectly Elastic), ini merupakan tingkat yang paling tinggi dari kemungkinan elastisitas, dimana respon yang paling besar dari jumlahbarang yang diminta terhadap harga, bentuk kurva permintaannya merupakan garis horizontal dengan sempurna sejajar dengan sumbu gabris horizontal dengan sempurna sejajar dengan sumbu datar, besar elastisitasnya tidak berhingga (Eh =ς) pada kondisi ini berapapun jumlah permintaan, harga tidak berubah atau pada tingkat harga yang jumlah permintaan dapat lebih banyak. 


2. Kurva permintaan yang tidak elastis sempurna (perfectly inelastic), ini merupakan tingkat paling rendah dari elastisitas, dimana respon yang jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga adalah sangat kecil, bentuk kurva permintaannya vertikal dengan sempurna sejajar dengan sumbu tegak, besar koefisien elastisitasnya adalah nol (Eh = 0), artinya bagaimanapun harga tinggi, konsumen tidak akan mengurangi jumlah permintaannya.

Masing-masing bentuk kurva elastisitas harga tersebut, Faktor Yang Mempengaruhi Elastisitas Harga Permintaan Elastisitas harga permintaan mengukur tingkat reaksi konsumer terhadap perubahan harga. Elastisitas ini dapat menceritakan pada produsen apa yang terjadi terhadap penerimaan penjualan mereka, jika mereka merubah strategi harga, apakah kenaikan/menurunkan jumlah barang yang akan dijualnya.

Ada beberapa faktor yang menentukan elastisitas harga permintaan :
1. Tersedia atau tidaknya barang pengganti di pasar
2. Jumlah pengguna/tingkat kebutuhan dari barang tersebut
3. Jenis barang dan pola preferensi konsumen
4. Periode waktu yang tersedia untuk menyesuaikan terhadap perubahan harga/periode waktu penggunaan
barang tersebut.
5. Kemampuan relatif anggaran untuk mengimpor barang 

Elastisitas akan besar bilamana :
1. terdapat banyak barang subsitusi yang baik
2. harga relatif tinggi
3. ada banyak kemungkinan-kemungkinan penggunaan barang lain 

Elastisitas umumnya akan kecil, bilamana :
1. benda tersebut digunakan dengan kombinasi benda lain
2. barang yang bersangkutan terdapat dalam jumlah banyak, dan dengan harga-harga yang rendah.
3. Untuk barang tersebut tidak terdapat barang-barang substitusi yang baik, Dan benda tersebut sangat dibutuhkan. 

Elastisitas Silang (The Cross Price Elasticity of demand) 
Permintaan konsumen terhadap suatu barang tidak hanya tergantung pada harga barang tersebut. Tetapi juga pada preferensi konsumen, harga barang subsitusi dan komplementer Dan juga pendapatan.
Para ahli ekonomi mencoba mengukur respon/reaksi permintaan terhadap harga yang berhubungan dengan barang tersebut, disebut dengan elastisitas silang (Cross Price Elasticity of demand)
Perubahan harga suatu barang akan mengakibatkan pergeseran permintaan kepada produk lain, maka elastisitas silang (Exy) adalah merupakan persentase perubahan permintaan dari barang X dibagi dengan persentase perubahan harga dari barang Y

Apabila hubungan kedua barang tersebut (X dan Y) bersifat komplementer (pelengkap) terhadap barang lain itu, maka tanda elastisitas silangnya adalah negatif, misalnya kenaikan harga tinta akan mengakibatkan penurunan permintaan terhadap pena.

Apabila barang lain tersebut bersifat substitusi (pengganti) maka tanda elastisitas silangnya adalah positif, misalnya kenaikan harga daging ayam akan mengakibatkan kenaikan jumlah permintaan terhadap daging sapi Dan sebaliknya. 

Bentuk umum dari Elastisitas silang adalah :
ΔQx Py
Es = ——- x ——- > 0 Substitusi
Δ Px Qx 
Δ Qy Px
Es = ——- x ——- < 0 Komplementer
Δ Py Qy

Perlu dicatat bahwa indeks/koefisien elastisitas tidak sama dengan lereng dari kurva atau slope dari kurva permintaan. Bila elastisitas tersebut no (0) berarti tidak ada hubungan antara suatu barang dengan barang lain.

Elastisitas Pendapatan (The Income Elasticity of Demand) 
Suatu perubahan (peningkatan/penurunan) daripada pendapatan konsumer akan berpengaruh terhadap permintaan berbagai barang, besarnya pengaruh perobahan tersebut diukur dengan apa yang disebut elastisitas pendapatan.

Elastisitas pendapatan ini dapat dihitung dengan membagi persentase perubahan jumlah barang yang diminta dengan persentase perobahan pendapatan, dengan rumus.

Δ Q Δ Y Δ Q Y
Em = ——- : ——– atau Em = ——– x ——–
Q Y ΔY Q 

Jika Em= 1 (Unity), maka 1 % kenaikan dalam pendapatan akan menaikkan 1 % jumlah barang yang diminta;
Jika Em>1 (Elastis), maka orang akan membelanjakan bahagian yang lebih besar dari pendapatan terhadap barang.
Jika pendapatan naik; jika Em < 1 (in Elastis), maka orang akan membelanjakan bahagian pendapatan yang lebih kecil untuk suatu barang, bila pendapatannya naik.
Apabila yang terjadi adalah kenaikkan pendapatan yang berakibatkan naiknya jumlah barang yang diminta, maka tanda elastisitas tersebut adalah positif dan barang yang diminta sebut barang normal atau superior.

Bila kenaikan dalam pendapatan tersebut berakibat berkurangnya jumlah suatu barang yang diminta, maka tanda elastisitas terhadap barang tersebut adalah negatif dan barang ini disebut dengan barang inferior atau giffen. 

Tulisan 13_Teori Organisasi Umum 2


Didukung Gerakan Mahasiswa, PKB Optimis Menangkan Pemilu 2014

Didukung Gerakan Mahasiswa, PKB Optimis Menangkan Pemilu 2014
Ketua Dewan Pembina Gemasaba PKB, Marwan Ja'far.
Liputan6.com, Jakarta : Jelang Pemilu 2014, hampir seluruh partai politik melakukan konsolidasi untuk meraih simpati rakyat dan memenangkan pesta demokrasi setiap 5 tahunan itu. Tak terkecuali, Partai Kebangkitan Bangsa yang lolos menjadi peserta pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) yang merupakan organisasi sayap PKB menyatakan siap menjadi energi baru dan memenangkan partai pimpinan Muhaimin Iskandari itu pada Pemilu 2014 yang akan datang.

"Gemasaba sebagai energi baru dari PKB siap membawa Partai untuk masuk 3 besar sebagaimana pada pemilu tahun 1999," tegas Ketua Umum Gemasaba Ghozali Munir melalui siaran pers yang diterimaLiputan6.com di Jakarta, Sabtu (14/4/2013).

Untuk memantapkan hal itu, Ghozali melantik pengurus Gemasaba wilayah Jawa Timur. Sekaligus melatih pengurus di 27 DPC di provinsi itu.

Ketua Dewan Pembina Gemasaba Marwan Ja'far menyatakan Gemasaba adalah wadah kaderisasi kawah candradimuka PKB. Organisasi itu berfungsi sebagai wadah transformasi ideologi dan idealisme PKB untuk generasi muda dalam mempersiapkan regenerasi partai.

Karena itu, Ia juga mengingatkan agar kader Gemasaba disiplin dalam 3 hal. "Kader harus disiplin diri, disiplin organisasi, dan disiplin ideologi," tegas Marwan.

Ia juga meminta kader Gemasaba menghidupkan kembali diskusi-diskusi yang bertemakan kitab kuning ala pesantren mengingat semakin redupnya kajian kitab kuning di perguruan tinggi. Lantaran, kegiatan itu akan mendorong kondolidasi lebih kuat di tubuh Gemasaba dan ujungnya menyatu kuat di wadah PKB.

"Kunci dari keberhasilan konsolidasi dan pemenangan partai untuk 2014 adalah kerja keras dan pantang menyerah. Maka dari itu sudah tidak ada lagi waktu tidur untuk kita," tandas Marwan yang juga Ketua Fraksi PKB DPR itu.(Adi)
Sumber Reff: http://news.liputan6.com/read/560986/didukung-gerakan-mahasiswa-pkb-optimis-menangkan-pemilu-2014

Rabu, 17 April 2013

Tulisan 12_Teori Organisasi Umum 2


DPP PDI P Siap Mengantisipasi Gesekan Antara Caleg Dan Kampanye

DPP PDI P Siap Mengantisipasi Gesekan Antara Caleg Dan KampanyePartai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) mengakui tak mudah mensiasati persaingan sehat antarcalon legislatif dari internal partai untuk daerah pemilihan sama dalam pemilu legislatif 2014 nanti. Ditambah, persaingan juga terjadi dengan caleg partai lain.
Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PDI P Arif Hidayat, Minggu (13/1/2013), mengatakan pihaknya akan mengantisipasi gesekan yang akan terjadi di antara caleg internal dengan mengorganisir kegiatan kampanye secara kolektif.
Faktor potensial menciptakan gesekan adalah modal belanja kampanye caleg tanpa batasan. Sehingga, caleg yang ber-uang akan menggelontorkan dana besar-besaran dalam kampanye untuk meraih kursi, tak peduli dengan caleg satu partai untuk dapil yang sama.
“Makanya PDI Perjuangan mengorganisir kegiatan kampanye secara kolektif melalui partai dengan membagi wilayah kampanye untuk masing-masing caleg. Secara internal, partai juga akan mengontrol belanja kampanye yang dikeluarkan caleg maupun partai,” ujar Arif.
Menurut Arif, selain mengontrol belanja kampanye yang dikeluarkan caleg maupun partai, partai berlambang banteng moncong putih juga menyusun pedoman etika berikut penegakannya berupa sanksi, jika kompetisi internal para caleg tidak sehat dan merusak.
Sebelum Undang-undang Nomor 8 Tahun 2012 disahkan, PDI Perjuangan sudah berusaha agar pembatasan dana kampanye caleg dibahas dengan harapan persaingan berjalan kompetitif. Selain PDI Perjuangan, PKS dan PKB juga memperjuangkan pembatasan dana kampanye tapi ditolak fraksi lainnya.
Terpisah, Direktur Eksekutif Perludem (Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi) Titi Anggraini megatakan, pileg nanti persaingan bukan saja antarcaleg beda partai tapi juga antarcaleg sesama partai. Sehingga kompetisi yang bakal terjadi berlapis.
“Ini menyebabkan satu partai harus berkompetisi. Ini sangat potensial menimbulkan konflik di dalam partai sejauh tidak memiliki manajemen yang baik. Fakta pada pemilu 2009, banyak partai mengaku kewalahan mengatur kadernya,”

TulisaN 11_Teori Organisasi Umum 2


SBY Ambil Alih Kepemimpinan Partai Demokrat Karna Hubungan Antarpersonal Dengan Anas

SBY Ambil Alih Kepemimpinan Partai Demokrat Karna Hubungan Antarpersonal Dengan AnasKeputusan SBY mengambil alih pucuk pimpinan dan melemahkan wewenang Ketua Umum Partai Demokrat bukan terkait dengan penurunan elektabilitas partai, melainkan lebih kepada hubungan antarpersonal dengan Anas.
SBY sangat memiliki kekhawatiran berlebihan terutama dengan keberadaan Anas. Ia seolah merasa terancam.
“Kondisi internal partai dengan mengambil alih kepemimpinan Ketua PD adalah wujud kekhawatiran SBY yang over, dan bukan terhadap penurunan elektabilitas partai tetapi lebih kepada personalitas Anas,” kata Pengamat politik Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Barkah Pattimahu di Jakarta, Sabtu(9/2/2013).
Sikap SBY itu kata Barkah juga bisa membahayakan. Kelangsungan dan mekanisme partai akan terganggu dan Demokrat tidak akan tumbuh di alam demokrasi yang sehat, tetapi berada di dalam bayang-bayang kekuatan SBY.
“Ini sangat berbahaya bagi kelangsungan dan mekanisme partai. Partai tidak akan tumbuh di alam demokrasi yang sehat tetapi berada dalam bayangan kekuatan SBY. Siapapun nantinya kader terbaik Demokrat yang muncul akan menjadi ‘phobia Cikeas’, ketika terdapat kecurigaan yang berlebihan akan mengaungi peran Cikeas. Partai Demokrat akan turun citranya di mata publik dengan sikap dan langkah politik SBY,” ujarnya.
Langkah SBY dalam menyikapi badai di internal partai kata Barkah .
juga dinilai sebagai bentuk ambivalensi sikap politik SBY , SBY sebagai ketua Majelis Tinggi sekaligus sebagai kepala pemerintahan meminta para menteri meningkatkan kinerja di pemerintahan dan tidak mengurus politik, tapi pada sisi lain SBY secara langsung menyibukkan diri dengan urusan poilitik PD.
“Kata-kata SBY yang sering bermakna ganda, kini langkah politik juga ikut bercabang. Publik akan marah dengan sikap Presidennya dan caranya adalah dengan tidak memilih PD,” ujarnya.

Tullisan 10_Teori Organisasi Umum 2


KPU Putuskan Parpol Yang Lolos Verifikasi Faktual Diprediksi Akan Digugat

KPU Putuskan Parpol Yang Lolos Verifikasi Faktual Diprediksi Akan DigugatKeputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengenai partai yang lolos verifikasi faktual diprediksi akan digugat. Gugatan tersebut berasal dari partai politik yang tidak lolos verifikasi faktual.
“Kemungkinan besar gugatan sangat tinggi yakni 16 partai dengan 18 partai, artinya ada 34 parpol, sementara hanya 10 yang lolos,” kata Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TEPI) Jeirry Sumampow dalam jumpa pers di Cikini, Jakarta, Minggu (6/1/2013).
Menurut Jeirry, banyak partai yang tidak ingin mengikuti proses verifikasi faktual. Dengan sendirinya parpol tersebut tidak lolos menjadi peserta pemilu 2014. Namun, hal itu tidak menyurutkan gugatan kepada putusan KPU.
“Gugatan parpol-parpol lain akan muncul khususnya yang lolos di 16 pertama saat verifikasi administrasi. Gugatan yang akan dilakukan bisa lebih banyak soal prosedur,” katanya.
Selain itu, gugatan juga akan berisi mengenai penyelenggara Pemilu dan kinerja KPU. Tetapi, Jeirry menilai, parpol tersebut sulit beradu data dengan KPU. Pasalnya, memang banyak parpol yang tidak lolos secara persyaratan yang diminta undang-undang.
“Kalaupun ada gugatan untuk mengadu data akan sangat sulit, khususnya di tingkat Bawaslu. UU ini memang terlalu rumit, tapi itulah yang semestinya kita ikuti, gugatan akan berkisar soal kinerja Pemilu dalam hal ini KPU,” ujarnya.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengumumkan hasil verifikasi faktual partai politik 2014 pada 7 Januari 2013, besok. Namun, Komite Pemilih Indonesia (TEPI) mengklaim telah mengetahui hasil partai politik yang lolos verifikasi faktual tersebut.
Koordinator TEPI, Jeirry Sumampow, mengatakan, peserta pemilu 2014 sebanyak 10 parpol. Ke-10 parpol itu adalah mereka yang lolos verifikasi administrasi KPU. Sembilan partai lolos adalah parpol yang kini berada di parlemen dengan penambahan Partai Nasdem.
“Dari hasil verifikasi parpol itu yang lolos hanya 10 partai, sembilan partai yang di parlemen dan satu partai baru yaitu Nasdem,” kata Jeirry
Jeirry menjelaskan, partai yang lolos verifikasi administrasi namun gagal dalam verifikasi faktual yakni Partai Persatuan Nasional (PPN), Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Demokrasi Pembaruan (PDP), Partai Kesatuan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dan Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB)
“Jadi sesuai data ini PBB tidak lolos di empat provinsi, PDP itu di 21 propinsi, PKPI di enam provinsi, PKBIB di 20 provinsi, PPRN di 12 provinsi dan PPN di 6 provinsi, kalau ada partai secara provinsi tak lolos dan parpol yang bersangkutan tidak akan lolos di tingkat nasional,” katanya.
Sedangkan, kata Jeirry, 18 parpol yang diminta DKPP untuk diverifikasi faktual bernasib sama. Parpol tersebut tidak lolos dalam verifikasi faktual. Sebab, 18 parpol itu tidak ada di semua provinsi itu mulus artinya tidak semua lolos.
“Karena jika salah satu provinsi saja tidak lolos, maka itu tidak bisa diloloskan. Syarat kepengurusan dan syarat keanggotaan di tingkat provinsi dan kabupaten kota,” jelas Jeirry.

Senin, 15 April 2013

Tulisan 9_Teori Organisasi Umum 2


KENAIKAN BBM BULAN MEI 2013 PENGHEMATAN MENCAPAI RP 40 TRILIUN

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Keuangan menghitung, jika harga BBM subsidi dinaikkan Rp1.500 per liter pada Mei 2013, maka penghematan subsidi yang didapat mencapai Rp35 triliun hingga Rp40 triliun. 
"Kenaikan harga BBM merupakan opsi yang paling signifikan mengurangi subsidi," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Kamis. 
Disusul, lanjutnya, pembatasan atau pelarangan kendaraan pribadi memakai BBM subsidi dan terakhir opsi pembuatan premium jenis baru yakni berangka oktan 90. 
Menurut dia, semakin lama kebijakan BBM diambil maka penghematan subsidi yang didapat makin sedikit, defisit perdagangan migas semakin membesar, dan makin menekan rupiah. 
Bambang menambahkan, dari sisi Kemenkeu, hanya menghitung sebatas dampak fiskal, pertumbuhan, kemiskinan, pengangguran, dan inflasi. 
"Sementara, pemimpin negara harus menghitung kalkulasi politik dan dampak sosial," katanya. 
Ia mengatakan, semakin banyak penghematan subsidi yang didapat, maka makin besar pula besaran kompensasinya. 
Pemerintah masih mengkaji opsi kebijakan BBM untuk mengurangi besaran subsidi yang makin membengkak seiring kenaikan harga minyak dan konsumsi yang terus meningkat. 
Ada tiga opsi kebijakan BBM yang masih dibahas yakni kenaikan harga BBM yang disertai kompensasi, pembatasan pemakaian BBM untuk kendaraan pribadi, dan pembuatan premium dengan angka oktan 90.(rr).